Gadis Berusia Baru 22 Tahun Tapi Tulangnya Berumur 100 Tahun

- 1/01/2014
advertise here


Tadinya Jessica Taylor adalah gadis muda yang aktif, bahkan menjadi kapten netball di sekolahnya. Tapi penyakit Myalgic encephalomyelitis telah merenggut masa mudanya. Di usia yang baru menginjak 22 tahun, tulang Jessica sudah sangat rapuh seperti lansia umur 100 tahun.

Jessica Taylor kehilangan segalanya saat Myalgic encephalomyelitis (ME) parah menyebabkan tubuhnya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Gadis asal Rochester, Kent, ini menghabiskan empat tahun untuk terus-menerus ke rumah sakit dan tak pernah meninggalkan tempat tidur selama tujuh tahun terakhir.

Selama di rumah sakit, ia begitu kesakitan hingga tidak bisa mengenali keluarganya sendiri, harus makan melalui tabung dan tidak bisa menggerakkan anggota badan selain kepalanya. Karena telah berada di tempat tidur begitu lama, dokter pun mengatakan Jessica mengalami osteoporosis parah yang membuat tulangnya begitu rapuh seperti nenek usia 100 tahun.

"Hidup saya adalah dunia satu ruangan. ME membuat saya kehilangan segalanya pada akhirnya," tutur Jessica Taylor, seperti dilansir Daily Mail, Senin (30/12/2013).

Jessica pertama jatuh sakit saat berusia 14 tahun. Saat itu, ia mengalami serangan flu yang tidak pernah pulih meski sudah diobati, kesehatannya memburuk dengan cepat dan dalam waktu sembilan bulan dia hanya bisa terbaring di tempat tidur.

Pada awalnya dokter mengira Jessica menderita glandular fever, tetapi kondisinya cepat memburuk sampai dia begitu lemah dan memerlukan kursi roda. Tak lama setelah itu, geraknya pun hanya terbatas di tempat tidur.

Jessica berhenti sekolah pada usia 15 tahun dan pada tahun 2006 ia mulai bolak-balik dirawat di rumah sakit. Dia menghabiskan empat tahun di Medway Maritime Hospital di Gillingham, Queen’s Hospital di Romford, dan Burswood Hospital di Tunbridge Wells.

Selama 18 bulan dia begitu sakit, dia tidak bisa berbicara atau memahami apa yang dikatakan kepadanya, dan selama dua tahun ia harus diberi makan melalui tabung. Dia juga sangat sensitif terhadap cahaya dan suara, yang mengharuskannya memakai kacamata hitam dan penutup telinga terus-menerus.

Dia tidak bisa bergerak sama sekali selain untuk menjabat atau menganggukkan kepalanya. Karena kondisinya, Jessica pun memerlukan perawatan harian selama 24 jam, termasuk dimandikan dan menggunakan buang air menggunakan pispot.

"Itu sangat menyakitkan. Kelelahan begitu kuat itu benar-benar menyakitkan," ujar Jessica.

Tak ingin orang lain merasakan penderitaan seperti yang dialaminya, Jessica meluncurkan sebuah badan amal yang disebut 'Share A Star' dari tempat tidurnya. Badan amal ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kehidupan anak-anak yang sakit.

'Share A Star' bertujuan untuk membuat anak-anak yang berada di rumah sakit merasa istimewa dan mengirimkannya bingkisan barang-barang untuk menghilangkan kebosanan.

"Kami tidak bisa menawarkan kesembuhan tapi kami dapat membantu setiap hari. Kami berada di sana melalui perjalanan," tuturnya.

Myalgic encephalomyelitis adalah suatu kondisi kronis yang menyebabkan kelelahan terus-menerus yang tidak hilang dengan tidur atau istirahat. Myalgic berarti nyeri otot dan encephalomyelitis berarti peradangan pada otak dan sumsum tulang belakang.

Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan cacat, namun banyak penderita, khususnya anak-anak dan orang muda, menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu. Selain kelelahan, gejala lain termasuk nyeri otot, mual, sakit tenggorokan, pusing dan kepekaan terhadap cahaya dan suara.

Tidak diketahui apa penyebabnya, tetapi dapat dikaitkan dengan infeksi virus, masalah sistem kekebalan tubuh, ketidakseimbangan hormon atau masalah psikologis. Hingga saat ini, tidak ada obat untuk ME. Tapi pilihan pengobatan termasuk terapi perilaku kognitif dan obat untuk mengontrol rasa sakit dan masalah tidur.

sumber: detikcom
Advertisement advertise here