Ketahui, Hadapi, Periksa, Obati Hepatitis B dan C

- 8/28/2014
advertise here
Pemeriksaan Darah
Hepatitis B dan C yang sering dikenal sebagai ‘sakit kuning’ atau ‘sakit liver’ adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) dan virus hepatitis C (HCV). Virus hepatitis B bisa ditularkan dari orang ke orang melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, dan cairan vagina; sedangkan virus hepatitis C bisa ditularkan melalui kontak/hubungan darah ke darah. Dalam jangka panjang, hepatitis B dan C bisa menjadi kronis dan mengakibatkan kerusakan hati, pengerasan hati (sirosis) , kanker hati, bahkan kematian.

Penderita hepatitis B dan C seringkali tidak menyadari dirinya telah terinfeksi selama bertahun-tahun hingga kondisinya memburuk, sebab 7 dari 10 kasus hepatitis B dan C tidak menunjukkan gejala. Oleh sebab itu, hepatitis B dan C dapat dengan mudahnya menyebar tanpa disengaja, misalnya melalui peralatan yang akrab pada kehidupan sehari-hari seperti gunting kuku, pisau cukur, dan sikar gigi. Peralatan tersebut seringkali saling dipinjamkan, sehingga rentan menularkan hepatitis B dan C. Gunting kuku misalnya, saat dipakai oleh seorang penderita hepatitis B atau C, maka terjadilah kontak darah yang terkontaminasi virus hepatitis B atau C yang bukan tidak mungkin dapat menularkannya kepada orang lain.

Keberadaan virus hepatitis B dan C dapat diketahui secara awal melalui pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HBs atau HBsAg untuk virus hepatitis B dan Anti-HCV untuk virus hepatitis C. Pemeriksaan laboratorium tersebut sangat dianjurkan, terutama bagi orang-orang yang berisiko yakni :

1. Memiliki orang tua/keluarga terinfeksi hepatitis B/C, terkena penyakit hati atau kanker hati.

2. Pernah berhubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi hepatitis B/C kronis.

3. Pernah melakukan transfusi darah, prosedur medis yang tidak steril.

4. Menggunakan obat-obatan yang disuntikkan dan pernah berbagi alat yang sama dengan orang lain.

5. Pernah berbagi dan menggunakan pisau cukur atau sikat gigi yang sama dengan orang lain.

Jika hasil pemeriksaan non reaktif atau negatif, cegah penularan, lakukan gaya hidup sehat, kenali faktor resiko infeksi, proteksi diri dengan vaksinasi dan cek keberhasilannya. Jika hasil pemeriksaan reaktif atau positif, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan serta pemeriksaan lebih lanjut untuk pemantauan selama dan setelah terapi supaya pengobatan lebih efektif.


Sumber } Kompas.com
Advertisement advertise here